السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Allah Membuka Aib Kepada Pembuka Aib
عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلْ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ
Daripada Abu Barzah Al Aslami ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda: "Wahai orang-orang yang beriman dengan lidahnya namun keimanannya belum masuk ke dalam hatinya! janganlah kamu mengumpat seorang muslim dan jangan pula mencari-cari kesalahannya (aibnya). Sesungguhnya sesiapa yang mencari-cari keaiban orang lain, maka Allah akan membuka keaibannya. Maka siapa saja yang Allah dedahkan keaibannya, maka Allah akan memalukannya walaupun yang ada di dalam rumahnya sendiri." (Sunan Abu Daud No: 4236) Status: Hadis Hasan
Pengajaran:
1. Hadis ini merupakan teguran kepada iman orang yang belum sempurna. Ungkapan “beriman dengan lidah tetapi belum masuk ke hati” merujuk kepada orang yang zahirnya Muslim tetapi belum menghayati iman secara mendalam dalam akhlaknya.
2. Orang yang beriman wajib memelihara lisannya dari mengumpat dan mencari kelemahan orang lain, sama ada sesuatu yang dituturkan mahupun yang diterjemahkan dalam bentuk tulisan.
3. Islam mengajar umatnya untuk tidak mengumpat atau menyebut keburukan orang lain tanpa kebenarakn syarak, walaupun ia suatu yang benar kerana ia merupakan dosa besar.
4. Islam melarang usaha menyiasat atau membongkar kelemahan orang lain, sama ada secara terang atau tersembunyi apatah lagi jika ia disebarkan melalui media sosial yang membuka ruang cacian dan makian daripada orang lain.
5. Sesiapa yang menutup aib saudaranya sesama muslim, nescaya Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Rasulullah bersabda:
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Maksudnya: "Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat." (Sunan Ibnu Majah)
6. Barangsiapa yang mencari-cari dan membuka kelemahan juga kesalahan saudara muslim yang lain, maka Allah akan membuka kesalahan dan aibnya walaupun yang ada di dalam rumahnya.
7. Orang yang gemar membicarakan aib orang lain, sebenarnya tanpa ia sedari ia sedang memperlihatkan jati dirinya yang asli. Semakin banyak aib yang ia sebarkan, maka semakin jelas keburukan diri si penyebar itu. Allah mengingatkan dengan nada keras kepada golongan ini:
إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩
Maksudnya: Sesungguhnya orang-orang yang suka menghebah tuduhan-tuduhan yang buruk dalam kalangan orang-orang yang beriman, mereka akan beroleh azab seksa yang tidak terperi sakitnya di dunia dan di akhirat dan (ingatlah) Allah mengetahui (segala perkara) sedang kamu tidak mengetahui (yang demikian). (An-Nur: 19)
8. Islam menuntut agar aib serta kelemahan orang lain ditutup, bukan didedahkan kepada khalayak. Jika ingin menegur, gunakanlah saluran yang dibenarkan syarak dengan penuh hikmah.
Kepada pencela dan pembuka aib, ingatlah azab Allah di dunia dan akhirat. Mengumpat dan membongkar aib orang lain bukanlah sifat seorang Muslim sejati. Sebaliknya, seorang mukmin yang benar-benar beriman akan menjaga lidah, menutup aib orang, dan menjaga kehormatan sesama Muslim.
20hb Syawal 1447H
09hb April 2026